Ini tulisan..
Dan aqu ingin tulisan ini kamu baca..
Dengan ini aku dapat mengungkapkannya..
Dan..
Perasaan ini tak kan pernah berubah..
Meski dihapus waktu..
Meski dihadang badai..
Aku tak kan gentar..
Dan..
Aku tak kan rapuh..
Biarpun beribu lebah menghampiri.. Aku takkan goyah..
Namun.. Ini bisa sia-sia..
Dan ini sia-sia..
Jangan pernah berharap lagi..
Motivasi diri..
28/04/11
Pendidikan.... Suatu proses untuk mencari arah hidup...
Selasa, 20 Desember 2011
Makalah Bahasa Indonesia Keilmuan
PENDIDIKAN KARAKTER
ANAK BERKEBUTUHAN KHUSUS (ABK)
MAKALAH
Untuk memenuhi tugas matakuliah
Bahasa Indonesia Keilmuan
yang dibina oleh Mita Arfiandani, S.Pd.
Oleh
Diadra Finalistiani
110154412528
UNIVERSITAS NEGERI MALANG
FAKULTAS ILMU PENDIDIKAN
JURUSAN KEPENDIDIKAN SEKOLAH DASAR DAN PRASEKOLAH
PRODI PENDIDIKAN LUAR BIASA
Desember 2011
PENDIDIKAN KARAKTER UNTUK ANAK BERKEBUTUHAN KHUSUS
I. Pendahuluan
1.1 Latar Belakang
Dahulu bangsa Indonesia merupakan bangsa yang paling disegani oleh bangsa lain karena memiliki karakter yang berbeda dengan bangsa lain. Karakter, perilaku, dan kepribadiannya benar-benar mencerminkah bahwa mereka adalah bangsa Indonesia. Namun, saat ini semua hal itu mengalami pengikisan. Kondisi masyarakat Indonesia kini memprihatinkan dalam segi moral. Hal ini dimulai setelah keberadaan P4 (Pedoman Penghayatan dan Pengamalan Pancasila) tidak dipakai lagi, sehingga Indonesia tidak memiliki alat saring untuk menerima atau menolak kebudayaan asing yang masuk ke Indonesia. Jika tidak ada alat penyaring tersebut, segala hal positif dan negatif dari budaya lain dapat masuk dalam budaya Indonesia
Melihat kondisi seperti ini, pemerintah mulai menata sistem pendidikan di Indonesia dengan memunculkan pendidikan karakter dalam semua jenjang pendidikan, mulai dari TK, tingkat dasar, dan tingkat menengah, baik menengah pertama maupun menengah atas. Menurut Megawani (dalam Kesuma, dkk.;2011:5), “Pendidikan karakter adalah sebuah usaha untuk mendidik anak agar dapat mengambil keputusan dengan bijak dan mempraktikkannya dalam kehidupan sehari-hari”. Selain itu, menurut Gaffar (dalam Kesuma, dkk.;2011:5), “Pendidikan karakter adalah sebuah proses transformasi nilai-nilai kehidupan untuk dapat ditumbuhkembangkan dalam kepribadian seseorang sehingga menjadi satu dalam perilaku kehidupan orang itu”. Hal ini dapat disimpulkan bahwa pendidikan karakter adalah pendidikan yang menanamkan segala hal yang positif kepada peserta didik agar dapat menerapkan hal positif itu dalam kehidupan sehari-hari untuk diri sendiri maupun orang lain. Pendidikan karakter juga merambah ke dalam jenjang dasar termasuk dalam pendidikan luar biasa untuk anak berkebutuhan khusus.
Dalam makalah ini akan dibahas nilai-nilai apa saja yang perlu ditanamkan untuk anak-anak berkebutuhan khusus, bagaimana menyisipkan pendidikan karakter, serta hambatan yang dihadapi oleh seorang pendidik dalam mendidik mereka.
1.2 Rumusan
(1) Apa saja nilai-nilai pendidikan karakter yang perlu diberikan untuk ABK?
(2) Bagaimana menyisipkan pendidikan karakter dalam pembelajaran ABK?
(3) Apa saja hambatan yang dialami pendidik saat menyisipkan pendidikan karakter dalam pembelajaran ABK?
1.3 Tujuan
(1) Menjelaskan nilai-nilai pendidikan karakter apa yang perlu diberikan untuk ABK
(2) Menjelaskan cara menyisipkan nilai-nilai pendidikan karakter untuk ABK
(3) Menjelaskan hambatan yang dialami pendidik saat menyisipkan pendidikan karakter dalam pembelajaran ABK
II. PEMBAHASAN
2.1 Nilai-nilai pendidikan karakter yang perlu diberikan untuk ABK.
Menurut seorang Kasubdit Sarpras Direktorat PPKLK Dikdas Ditjen Dikdas Kemendiknas di Yogyakarta (dalam Tok:2011), “ABK menjadi salah satu sasaran utama penerapan pendidikan karakter disatuan pendidikan .... harapannya mampu mewujudkan ABK yang berkarakter sesuai dengan nilai-nilai budaya dan agama”. Hal ini berarti bahwa nilai-nilai pendidikan karakter yang perlu diberikan untuk ABK adalah nilai agama dan nilai budaya. Nilai-nilai ini sebenarnya sama saja dengan nilai yang diberikan kepada anak yang tidak berkebutuhan khusus. Selain itu, ada satu nilai yang perlu ditambahkan yaitu nilai moral pancasila.
(a) Nilai agama
Agama merupakan salah satu cara untuk mengenal Tuhan. Dengan mempelajari agama, maka seseorang akan mengetahui apa yang diperintahkan dan dilarang oleh Tuhan.
(b) Nilai budaya
Tidak dapat dipungkiri, seseorang selalu membutuhkan orang lain, sehingga manusia perlu mempelajari kebudayaan-kebudayaan yang ada di daerahnya untuk dapat berinteraksi. Menurut mantan Menteri Komunikasi dan Informatika (dalam Puspitarini;2011), “Nilai-nilai budaya, seperti kejujuran dan kesetiakawanan inilah yang akan dibangun dalam diri para pelajar agar sesuai dengan pendidikan karakter”. Nilai-nilai seperti ini yang sebagian besar sudah dilupakan oleh generasi penerus bangsa sehingga perlu dipupuk lagi.
(c) Nilai moral Pancasila
Nilai moral pancasila perlu dimasukkan karena bangsa Indonesia memiliki pancasila sebagai dasar negara. Salah satu fungsi dari pancasila sendiri adalah sebagai pandangan hidup bangsa Indonesia, hal ini berarti bahwa segala aktifitas dalam kehidupan sehari-hari bangsa Indonesia harus menceminkan nilai-nilai dalam pancasila. Akhir-akhir ini moral bangsa Indonesia dikatakan sudah banyak yang menyimpang. Hal ini dibuktikan dengan banyaknya penyimpangan moral yang terjadi di berbagai daerah, misalnya korupsi merajalela, pembunuhan hingga mutilasi, dan lain-lain. Hal ini sangat memprihatinkan, sehingga perlu menanamkan lagi pendidikan karakter kepada siswa khususnya ABK agar dapat mengembalikan moral bangsa Indonesia sesuai dengan nilai-nilai pancasila.
2.2 Cara menyisipkan nilai-nilai pendidikan karakter untuk ABK
Menyisipkan nilai-nilai pendidikan karakter dapat dilakukan dengan menyisipkannya pada kegiatan sekolah, setiap mata pelajaran, serta pada ekstrakurikuler.
(a) Nilai agama
Salah satu cara untuk menyisipkan nilai ini, pendidik dapat menggunakan media pembelajaran agar siswa mudah memahami. Siswa ABK diajak beribadah sesuai keyakinan masing-masing, menjaga hubungan antara sesama manusia, mencontoh perilaku orang yang baik, membedakan baik dan buruk, membedakan perbuatan yang diperbolehkan dan yang tidak diperbolehkan oleh agama, dan lain-lain. Pada kegiatan sekolah, penyisipan nilai agama contohnya ketika di kelas, siswa diajak berdoa sebelum belajar, dan berdoa setelah selesai belajar, siswa diajak merayakan hari besar agamanya, dan lain-lain. Sedangkan untuk menyisipkan nilai agama pada setiap matapelajaran, contohnya saja pelajaran IPA, ketika guru menerangkan materi lingkungan, siswa disinggung bahwa lingkungan itu diciptakan oleh Tuhan, maka dari itu manusia tidak boleh merusak lingkungan karena akan dihukum oleh Tuhan. Pada kegiatan ekstrakurikuler pramuka, contohnya saat penjelajahan siswa dikenalkan tempat-tempat beribadah yang ada disekitar sekolahnya atau lingkungan pramukanya.
(b) Nilai budaya
Menyisipkan nilai budaya di sekolah untuk ABK dalam kegiatan sekolah misalnya ABK dilatih untuk dapat bersikap disiplin, datang sekolah tepat waktu, diadakan kantin kejujuran, dan lain-lain. Sedangkan untuk menyisipkan nilai budaya pada mata pelajaran, contohnya pada pelajaran matematika, siswa dituntut untuk kreatif dalam mengerjakan tugas matematika. Cara untuk memecahkan masalah dalam matematika sangat banyak sehingga butuh kreatifitas siswa untuk mengerjakannya. Sedangkan untuk menyisipkan nilai budaya pada ekstrakurikuler, contohnya ekstrakurikuler pramuka, siswa diajarkan bagaimana kerjasama yang baik antar kelompok, selain itu ekstrakurikuler menari untuk anak tunarungu sehingga kebudayaan daerah dapat dipertahankan dan dikembangkan.
(c) Nilai Moral Pancasila
ABK dididik untuk dapat bertingkah laku yang mencerminkan nilai-nilai pancasila, dari sila pertama hingga sila ke lima. Pada kegiatan sekolah, misalnya ABK mengikuti kerjabakti pada hari Sabtu. ABK dididik agar dapat bergotong royong, saling bahu membahu sesama teman. Hal ini sesuai dengan pengalaman Pancasila sila ke empat. Nilai-nilai yang disisipkan pada mata pelajaran, misalnya pada mata pelajaran bahasa Indonesia. Pendidik mengajak siswa berdiskusi untuk memecahkan masalah, sehingga siswa memiliki berbagai pendapat. Siswa dipersilahkan mengangkat tangan untuk mengatakan pendapatnya. Hal ini sangat mencerminkan nilai pancasila yaitu sila ke empat. Sedangkan untuk penyisipan nilai moral pancasila dalam ekstrakurikuler, contohnya pada ekstrakurikuler PMR, siswa diharapkan memiliki sikap rela hati, berani, tanggung jawab, tolong menolong, dan lain-lain.
Penyisipan ini disesuaikan dengan kondisi ABK, terutama untuk anak penyandang ketunaan sedang sampai berat untuk anak tunagrahita, autis, atau bahkan tunaganda. Hal ini disebabkan karena keterbatasan akal mereka untuk memahami dan memaknai apa yang mereka pelajari.
2.3 Kesulitan untuk menyisipkan nilai-nilai pendidikan karakter
Kesulitan untuk menyisipkan ini sebenarnya ada, namun sebagian besar tidak terdapat kesulitan yang berarti. Semua bergantung pada pendidik dan siswa. Jika pendidik tanggap dan kreatif, maka untuk menyisipkan nilai-nilai tersebut dapat berjalan tanpa kesulitan, namun jika pendidik tidak mau tahu serta tidak menanggapi dengan baik, maka penyisipan nilai-nilai tersebut tidak akan ada dan pendidikan karakter juga tidak akan berhasil.
III. PENUTUP
Nilai-nilai yang perlu diberikan untuk ABK adalah nilai agama, nilai budaya, dan nilai moral pancasila. Nilai-nilai tersebut disisipkan melalui kegiatan sekolah, pada tiap-tiap matapelajaran, serta pada kegiatan ekstrakurikuler. Sedangkan kesulitan-kesulitan pada penyisipan nilai-nilai pendidikan karakter ini sebagian besar tidak ada, namun itu tergantung pendidik maupun siswa. Jika pendidik dan siswa tanggap, mau, serta kreatif, maka penyisipan nilai-nilai tersebut tidak akan mengalami kendala yang berarti.
DAFTAR RUJUKAN
Kesuma, Dharma, dkk.. 2011. Pendidikan Karakter Kajian Teori dan Praktik di Sekolah. Bandung: PT. Remaja Rosdakarya Offset.
Puspitarini, Margaret. 2011. Budaya Berperan Penting dalam Pendidikan Karakter: (Online), (http://kampus.okezone.com/read/2011/10/19/373/517574/budaya-berperan-penting-dalam-pendidikan-karakter), diakses 19 Oktober 2011.
Tok. M. 2011. Mempersiapkan Pelaksanaan Pendidikan Karakter bagi ABK: (Online), (http://www.pendidikan-diy.go.id/?view=v_berita&id_sub=2484), diakses 26 Juni 2011.
ANAK BERKEBUTUHAN KHUSUS (ABK)
MAKALAH
Untuk memenuhi tugas matakuliah
Bahasa Indonesia Keilmuan
yang dibina oleh Mita Arfiandani, S.Pd.
Oleh
Diadra Finalistiani
110154412528
UNIVERSITAS NEGERI MALANG
FAKULTAS ILMU PENDIDIKAN
JURUSAN KEPENDIDIKAN SEKOLAH DASAR DAN PRASEKOLAH
PRODI PENDIDIKAN LUAR BIASA
Desember 2011
PENDIDIKAN KARAKTER UNTUK ANAK BERKEBUTUHAN KHUSUS
I. Pendahuluan
1.1 Latar Belakang
Dahulu bangsa Indonesia merupakan bangsa yang paling disegani oleh bangsa lain karena memiliki karakter yang berbeda dengan bangsa lain. Karakter, perilaku, dan kepribadiannya benar-benar mencerminkah bahwa mereka adalah bangsa Indonesia. Namun, saat ini semua hal itu mengalami pengikisan. Kondisi masyarakat Indonesia kini memprihatinkan dalam segi moral. Hal ini dimulai setelah keberadaan P4 (Pedoman Penghayatan dan Pengamalan Pancasila) tidak dipakai lagi, sehingga Indonesia tidak memiliki alat saring untuk menerima atau menolak kebudayaan asing yang masuk ke Indonesia. Jika tidak ada alat penyaring tersebut, segala hal positif dan negatif dari budaya lain dapat masuk dalam budaya Indonesia
Melihat kondisi seperti ini, pemerintah mulai menata sistem pendidikan di Indonesia dengan memunculkan pendidikan karakter dalam semua jenjang pendidikan, mulai dari TK, tingkat dasar, dan tingkat menengah, baik menengah pertama maupun menengah atas. Menurut Megawani (dalam Kesuma, dkk.;2011:5), “Pendidikan karakter adalah sebuah usaha untuk mendidik anak agar dapat mengambil keputusan dengan bijak dan mempraktikkannya dalam kehidupan sehari-hari”. Selain itu, menurut Gaffar (dalam Kesuma, dkk.;2011:5), “Pendidikan karakter adalah sebuah proses transformasi nilai-nilai kehidupan untuk dapat ditumbuhkembangkan dalam kepribadian seseorang sehingga menjadi satu dalam perilaku kehidupan orang itu”. Hal ini dapat disimpulkan bahwa pendidikan karakter adalah pendidikan yang menanamkan segala hal yang positif kepada peserta didik agar dapat menerapkan hal positif itu dalam kehidupan sehari-hari untuk diri sendiri maupun orang lain. Pendidikan karakter juga merambah ke dalam jenjang dasar termasuk dalam pendidikan luar biasa untuk anak berkebutuhan khusus.
Dalam makalah ini akan dibahas nilai-nilai apa saja yang perlu ditanamkan untuk anak-anak berkebutuhan khusus, bagaimana menyisipkan pendidikan karakter, serta hambatan yang dihadapi oleh seorang pendidik dalam mendidik mereka.
1.2 Rumusan
(1) Apa saja nilai-nilai pendidikan karakter yang perlu diberikan untuk ABK?
(2) Bagaimana menyisipkan pendidikan karakter dalam pembelajaran ABK?
(3) Apa saja hambatan yang dialami pendidik saat menyisipkan pendidikan karakter dalam pembelajaran ABK?
1.3 Tujuan
(1) Menjelaskan nilai-nilai pendidikan karakter apa yang perlu diberikan untuk ABK
(2) Menjelaskan cara menyisipkan nilai-nilai pendidikan karakter untuk ABK
(3) Menjelaskan hambatan yang dialami pendidik saat menyisipkan pendidikan karakter dalam pembelajaran ABK
II. PEMBAHASAN
2.1 Nilai-nilai pendidikan karakter yang perlu diberikan untuk ABK.
Menurut seorang Kasubdit Sarpras Direktorat PPKLK Dikdas Ditjen Dikdas Kemendiknas di Yogyakarta (dalam Tok:2011), “ABK menjadi salah satu sasaran utama penerapan pendidikan karakter disatuan pendidikan .... harapannya mampu mewujudkan ABK yang berkarakter sesuai dengan nilai-nilai budaya dan agama”. Hal ini berarti bahwa nilai-nilai pendidikan karakter yang perlu diberikan untuk ABK adalah nilai agama dan nilai budaya. Nilai-nilai ini sebenarnya sama saja dengan nilai yang diberikan kepada anak yang tidak berkebutuhan khusus. Selain itu, ada satu nilai yang perlu ditambahkan yaitu nilai moral pancasila.
(a) Nilai agama
Agama merupakan salah satu cara untuk mengenal Tuhan. Dengan mempelajari agama, maka seseorang akan mengetahui apa yang diperintahkan dan dilarang oleh Tuhan.
(b) Nilai budaya
Tidak dapat dipungkiri, seseorang selalu membutuhkan orang lain, sehingga manusia perlu mempelajari kebudayaan-kebudayaan yang ada di daerahnya untuk dapat berinteraksi. Menurut mantan Menteri Komunikasi dan Informatika (dalam Puspitarini;2011), “Nilai-nilai budaya, seperti kejujuran dan kesetiakawanan inilah yang akan dibangun dalam diri para pelajar agar sesuai dengan pendidikan karakter”. Nilai-nilai seperti ini yang sebagian besar sudah dilupakan oleh generasi penerus bangsa sehingga perlu dipupuk lagi.
(c) Nilai moral Pancasila
Nilai moral pancasila perlu dimasukkan karena bangsa Indonesia memiliki pancasila sebagai dasar negara. Salah satu fungsi dari pancasila sendiri adalah sebagai pandangan hidup bangsa Indonesia, hal ini berarti bahwa segala aktifitas dalam kehidupan sehari-hari bangsa Indonesia harus menceminkan nilai-nilai dalam pancasila. Akhir-akhir ini moral bangsa Indonesia dikatakan sudah banyak yang menyimpang. Hal ini dibuktikan dengan banyaknya penyimpangan moral yang terjadi di berbagai daerah, misalnya korupsi merajalela, pembunuhan hingga mutilasi, dan lain-lain. Hal ini sangat memprihatinkan, sehingga perlu menanamkan lagi pendidikan karakter kepada siswa khususnya ABK agar dapat mengembalikan moral bangsa Indonesia sesuai dengan nilai-nilai pancasila.
2.2 Cara menyisipkan nilai-nilai pendidikan karakter untuk ABK
Menyisipkan nilai-nilai pendidikan karakter dapat dilakukan dengan menyisipkannya pada kegiatan sekolah, setiap mata pelajaran, serta pada ekstrakurikuler.
(a) Nilai agama
Salah satu cara untuk menyisipkan nilai ini, pendidik dapat menggunakan media pembelajaran agar siswa mudah memahami. Siswa ABK diajak beribadah sesuai keyakinan masing-masing, menjaga hubungan antara sesama manusia, mencontoh perilaku orang yang baik, membedakan baik dan buruk, membedakan perbuatan yang diperbolehkan dan yang tidak diperbolehkan oleh agama, dan lain-lain. Pada kegiatan sekolah, penyisipan nilai agama contohnya ketika di kelas, siswa diajak berdoa sebelum belajar, dan berdoa setelah selesai belajar, siswa diajak merayakan hari besar agamanya, dan lain-lain. Sedangkan untuk menyisipkan nilai agama pada setiap matapelajaran, contohnya saja pelajaran IPA, ketika guru menerangkan materi lingkungan, siswa disinggung bahwa lingkungan itu diciptakan oleh Tuhan, maka dari itu manusia tidak boleh merusak lingkungan karena akan dihukum oleh Tuhan. Pada kegiatan ekstrakurikuler pramuka, contohnya saat penjelajahan siswa dikenalkan tempat-tempat beribadah yang ada disekitar sekolahnya atau lingkungan pramukanya.
(b) Nilai budaya
Menyisipkan nilai budaya di sekolah untuk ABK dalam kegiatan sekolah misalnya ABK dilatih untuk dapat bersikap disiplin, datang sekolah tepat waktu, diadakan kantin kejujuran, dan lain-lain. Sedangkan untuk menyisipkan nilai budaya pada mata pelajaran, contohnya pada pelajaran matematika, siswa dituntut untuk kreatif dalam mengerjakan tugas matematika. Cara untuk memecahkan masalah dalam matematika sangat banyak sehingga butuh kreatifitas siswa untuk mengerjakannya. Sedangkan untuk menyisipkan nilai budaya pada ekstrakurikuler, contohnya ekstrakurikuler pramuka, siswa diajarkan bagaimana kerjasama yang baik antar kelompok, selain itu ekstrakurikuler menari untuk anak tunarungu sehingga kebudayaan daerah dapat dipertahankan dan dikembangkan.
(c) Nilai Moral Pancasila
ABK dididik untuk dapat bertingkah laku yang mencerminkan nilai-nilai pancasila, dari sila pertama hingga sila ke lima. Pada kegiatan sekolah, misalnya ABK mengikuti kerjabakti pada hari Sabtu. ABK dididik agar dapat bergotong royong, saling bahu membahu sesama teman. Hal ini sesuai dengan pengalaman Pancasila sila ke empat. Nilai-nilai yang disisipkan pada mata pelajaran, misalnya pada mata pelajaran bahasa Indonesia. Pendidik mengajak siswa berdiskusi untuk memecahkan masalah, sehingga siswa memiliki berbagai pendapat. Siswa dipersilahkan mengangkat tangan untuk mengatakan pendapatnya. Hal ini sangat mencerminkan nilai pancasila yaitu sila ke empat. Sedangkan untuk penyisipan nilai moral pancasila dalam ekstrakurikuler, contohnya pada ekstrakurikuler PMR, siswa diharapkan memiliki sikap rela hati, berani, tanggung jawab, tolong menolong, dan lain-lain.
Penyisipan ini disesuaikan dengan kondisi ABK, terutama untuk anak penyandang ketunaan sedang sampai berat untuk anak tunagrahita, autis, atau bahkan tunaganda. Hal ini disebabkan karena keterbatasan akal mereka untuk memahami dan memaknai apa yang mereka pelajari.
2.3 Kesulitan untuk menyisipkan nilai-nilai pendidikan karakter
Kesulitan untuk menyisipkan ini sebenarnya ada, namun sebagian besar tidak terdapat kesulitan yang berarti. Semua bergantung pada pendidik dan siswa. Jika pendidik tanggap dan kreatif, maka untuk menyisipkan nilai-nilai tersebut dapat berjalan tanpa kesulitan, namun jika pendidik tidak mau tahu serta tidak menanggapi dengan baik, maka penyisipan nilai-nilai tersebut tidak akan ada dan pendidikan karakter juga tidak akan berhasil.
III. PENUTUP
Nilai-nilai yang perlu diberikan untuk ABK adalah nilai agama, nilai budaya, dan nilai moral pancasila. Nilai-nilai tersebut disisipkan melalui kegiatan sekolah, pada tiap-tiap matapelajaran, serta pada kegiatan ekstrakurikuler. Sedangkan kesulitan-kesulitan pada penyisipan nilai-nilai pendidikan karakter ini sebagian besar tidak ada, namun itu tergantung pendidik maupun siswa. Jika pendidik dan siswa tanggap, mau, serta kreatif, maka penyisipan nilai-nilai tersebut tidak akan mengalami kendala yang berarti.
DAFTAR RUJUKAN
Kesuma, Dharma, dkk.. 2011. Pendidikan Karakter Kajian Teori dan Praktik di Sekolah. Bandung: PT. Remaja Rosdakarya Offset.
Puspitarini, Margaret. 2011. Budaya Berperan Penting dalam Pendidikan Karakter: (Online), (http://kampus.okezone.com/read/2011/10/19/373/517574/budaya-berperan-penting-dalam-pendidikan-karakter), diakses 19 Oktober 2011.
Tok. M. 2011. Mempersiapkan Pelaksanaan Pendidikan Karakter bagi ABK: (Online), (http://www.pendidikan-diy.go.id/?view=v_berita&id_sub=2484), diakses 26 Juni 2011.
Selasa, 11 Oktober 2011
Mental Retardation
Mental retardation
Mental retardation
(MR) is a generalized disorder appearing before adulthood, characterized by
significantly impaired cognitive functioning and deficits in two or more
adaptive behaviors. Once focused almost entirely on cognition, the definition
now includes both a component relating to mental functioning and one relating
to individuals' functional skills in their environment. It has historically
been defined as an Intelligence Quotient score under 70
Levels of Mental Retardation
1.
Mild MR :
Intelligence Quotient (IQ) Range 52 - 69
2.
Moderate MR :
Intelligence Quotient (IQ) Range 36 - 51
3.
Severe MR :
Intelligence Quotient (IQ) Range 20 – 35
4.
Propound MR :
Intelligence Quotient (IQ) Range 19 or below
General characteristics of
mental retardation:
1.
Academic
•
Learning capacity of MR is limited
•
Study with rote learning (only listen but don’t know
what they learn)
•
Avoid to solve problem with thinking
•
Difficult to concentration
•
Quickly forgot something
•
Difficult to make new creation
2.
Social / Emotional
•
Can
not take care of themselves
•
Their personality are less dynamic, volatile, less appealing, not knowledgeable
•
Easy given the suggestion
•
But they are diligent and have sense of emphaty
if the environtment is conducive
3.
Physical/health
•
Both
the structure and function of the body in general they are less than normal
children
•
They can walk and speak less than normal
children
•
They
usually have a complex disorder, ex: vision disorder. This disorder not
because their organ, but there is wrong with the prossesing in the brain. So,
they can see but they don’t understand the meaning what they see.
•
They can’t feel
pain (sick), and when their body is unhealth
•
Their immuns
is not good
•
Many of MR is die in young age.
•
They’re susceptible to disease because they
can’t maintain themselves
Special characteristics of
mental retardation :
1.
Mild Mental Retardation
•
They can read, write, count with simple lesson
•
language development is limited
•
The speed of their intelligence is among half
and three quarters of the normal
children and stopped in the young age.
•
They still can associated and learn a simple
work
•
They
still can maintain themself
•
When they are adult, their intelegence same with
a normal children in the 9-12 years old
2.
Moderate Mental Retardation
•
They can’t learn an academic subjects
•
Language development is more limited than mild
MR
•
They communicate with some words.
•
They can read, write like as their name, their
address, name of their parents, ect.
•
They know about number but they don’t know about
the meaning of number
•
They almost have a skill to maintain themself
•
Usually they are trained to do something
routinely
•
When they are adult, their intelegence same with
a normal children in the 6 years old
•
They can do something with supervision
3.
Severe and propound Mental Retardation
•
Among
these individuals, motor and speech development is severely retarded and
sensory defects and motor handicaps are common. These mental retardates can
develop limited levels of personal hygiene and self-help skills, which somewhat
lessen their dependence, but all their lives they will be dependent on others
for care. However, many profit to some extent from training and can perform
simple occupational tasks under supervision.
•
Language development is most limited than mild
MR and moderate MR.
•
They communicate with litte words .
•
They can’t maintain themself
•
When they are adult, their intelegence same with
a normal children in the 4 years old
•
They can do something with supervision
sumber:
Wardani, I.G.A.K., dkk. 2007. Materi
Pokok Pengantar Pendidikan Luar Biasa. Jakarta:
Universitas Terbuka.
http://www.merckmanuals.com/home/childrens_health_issues/learning_and_developmental_disorders/intellectual_disability.html
Minggu, 23 Mei 2010
Penghalang
Belati menancap dalam hati..
Seperti santet..
Sakitnya tak bisa diungkapkan dengan kata-kata..
Menyudutkanku pada sudut-sudut kamarku..
Tersudut oleh penyakit yang sulit dapat diobati..
Aku menyudutkanku dalam sudut-sudut kamar..
Banyak orang lalu lalang..
Aku hanya ingin diperhatikan..
Namun kesibukkan berlalu lalang..
Aku tak mau jadi penghalang..
Dan tak mau kesibukan jadi penghalang..
Seperti santet..
Sakitnya tak bisa diungkapkan dengan kata-kata..
Menyudutkanku pada sudut-sudut kamarku..
Tersudut oleh penyakit yang sulit dapat diobati..
Aku menyudutkanku dalam sudut-sudut kamar..
Banyak orang lalu lalang..
Aku hanya ingin diperhatikan..
Namun kesibukkan berlalu lalang..
Aku tak mau jadi penghalang..
Dan tak mau kesibukan jadi penghalang..
Rabu, 12 Mei 2010
Tersandung
Jalan semakin rusak..
Debu-debu terbang masuk pori-pori kulit..
Terasa begitu gatal..
Tiba-tiba aku tersandung,sakit..
Gumpalan daging ini perih..
Tersandung batu yang terjal..
Batu itu bukan hanya menyakitkanku..
Batu itu menyakitkan mereka semua..
Anggota tubuh ini menjadi korban..
Tapi kepalaku tak sejalan dengan anggota tubuh yang lain..
Akankah tersandungku ini akan selalu menghantui aku?
Kepalaku..
Mengertilah aku..
Aku lelah seperti ini..
Debu-debu terbang masuk pori-pori kulit..
Terasa begitu gatal..
Tiba-tiba aku tersandung,sakit..
Gumpalan daging ini perih..
Tersandung batu yang terjal..
Batu itu bukan hanya menyakitkanku..
Batu itu menyakitkan mereka semua..
Anggota tubuh ini menjadi korban..
Tapi kepalaku tak sejalan dengan anggota tubuh yang lain..
Akankah tersandungku ini akan selalu menghantui aku?
Kepalaku..
Mengertilah aku..
Aku lelah seperti ini..
Langganan:
Komentar (Atom)